Katanya kerja itu 40 jam seminggu.
Alias 8 jam sehari.
Libur di hari Sabtu dan Minggu.
Nyatanya ada banyak orang yang kerja lebih dari itu. Lebih dari 8 jam per hari.
Tengok aja bapak sopir taksi itu. Kerjanya lebih dari 8 jam. Dia keluar rumah jam 4 pagi, ambil mobil di pool. Keliling kota antar penumpang. Kembali ke pool jam 12 malam. Walau kadang dia memilih pulang ke pool jam 8 malam.
Atau tengok si Gendut yang masuk kantor jam 9 pagi. Duduk di belakang komputer teranyarnya. Ngobrol sana-sini, meeting ke coffee shop, kembali ke kantor, koordinasi dengan anak buah, dan baru pulang ke rumah jam 11 malam.
Juga ada Bapak tua yang keluar rumah jam 3 pagi, seharian angkat-angkat lampu, lari-lari bawa kantong pasir, baru selesai kerja jam 11 malam, dan baru kembali ke rumah jam 1 dini hari. Itu pun kalau dia gak mampir dulu ke warung bir di pasar. Dilanjutkan besoknya berangkat jam 4 pagi untuk kembali ke rumah jam 11 atau 12 malam. Maklum shooting.
Sementara gue harus kerja lebih panjang dari si Gendut. Harus bangun lebih dulu dari Bapak Tua, dan pulang setelah dia.
Nasib loe.
Kebahagiaan gue, bisa lihat itu semua. Kebahagiaan gue bisa tulis itu semua.
Amien.
selamat berlibur... selamat tahun baru....
31 December 2005
25 April 2005
Autis
Sabtu lalu (23/04) saya menghadiri pembukaan pameran lukisan karya sepupu saya yang dipercaya Autis. Saat ini dia berumur 11 tahun, dan di pameran itu dia memamerkan 14 lukisannya. Bersama sekitar 15 anak Autis lainnya mereka mememerkan lebih dari 70 lukisan, dengan harga jual antara 150 hingga 300 ribu rupiah. Selama itu saya bertahan untuk duduk di satu kursi. Kursi yang tidak diperuntukkan bagi siapa pun. Kursi yang sebenarnya tidak nyaman untuk diduduki. Tapi itu satu-satunya tempat untuk menyingkir.
Pedih....
14 Lukisan.
Pameran.
Menjual.
BERKARYA
apa yang sudah saya lakukan?
Pedih....
14 Lukisan.
Pameran.
Menjual.
BERKARYA
apa yang sudah saya lakukan?
08 April 2005
apa jadinya
Ini bisa jadi pertanyaan.
Apa jadinya kalau Ambalat sampai jatuh ke tangan Malaysia seperti Sipadan dan Ligitan?
Apa jadinya kalau Reformasi kebabalasan?
Apa jadinya kalau Buah Merah ternyata beracun?
Apa jadinya kalau hutan Sumatera musnah?
Apa jadinya bila semua orang Baduy 'turun gunung' ke Jakarta?
Apa jadinya bila dolar jadi Rp. 10.000,- (lagi)?
Apa jadinya kalau ini diteruskan?
Mungkin bisa 10 baris, 13 baris, 113 baris, 1002 baris, atau tak terhingga.
Ini bisa jadi pernyataan.
Kalau dikejar DeadLine, yang bisa diberikan pada client adalah Apa Jadinya.
Seperti Blog ini.
Setelah utak-atik gak karuan, gak tau bagus apa gak, kebodohan ini telah diakhiri dengan Apa Jadinya aja....
Apa jadinya kalau Ambalat sampai jatuh ke tangan Malaysia seperti Sipadan dan Ligitan?
Apa jadinya kalau Reformasi kebabalasan?
Apa jadinya kalau Buah Merah ternyata beracun?
Apa jadinya kalau hutan Sumatera musnah?
Apa jadinya bila semua orang Baduy 'turun gunung' ke Jakarta?
Apa jadinya bila dolar jadi Rp. 10.000,- (lagi)?
Apa jadinya kalau ini diteruskan?
Mungkin bisa 10 baris, 13 baris, 113 baris, 1002 baris, atau tak terhingga.
Ini bisa jadi pernyataan.
Kalau dikejar DeadLine, yang bisa diberikan pada client adalah Apa Jadinya.
Seperti Blog ini.
Setelah utak-atik gak karuan, gak tau bagus apa gak, kebodohan ini telah diakhiri dengan Apa Jadinya aja....
Subscribe to:
Posts (Atom)
